Tampilkan postingan dengan label pejabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pejabat. Tampilkan semua postingan

Tumbuhkan Tanggung - Jawab Membangun Anak Bangsa,Bag.2

Sabtu, 13 November 2010
 Dengan energi mudaku aku harus melangkah pasti menuju masadepan

Ada yang mengatakan bahwa suatu kemajuan bangsa akan sangat tergantung kemajuan pendidkannya . Lihatlah Jepang bisa bangkit dengan cepat dari kehancuran, akibat serangan sekutu terhadap dua kota pentingnya yaitu Hirosima dan Nagasaki tahun 1942 .Menurut informasi yang saya dengar  setelah kehancuran negerinya oleh sekutu, Jepang memulai pembangunan kembali dengan memprioritaskan pendidikan. Sisa modal yang ada ( anggaran ) diutamakan untuk membiayai pendidikan. Seluruh anak bangsa di infentarisir, kemudian diklasifikasikan menjadi kelompok anak bangsa yang jenius, kelompok anak bangsa pintar(sedang) dan kelompok berkemampuan rendah.. Kemudian apa yang dilakukan  Jepang terhadap mereka? Orang-orang pintar di kirim sekolah  ke luar negeri untuk belajar teknologi dll , secara terselubung mungkin selain belajar juga mencuri rahasia kemajuan bangsa maju (Eropa dan Amerika). Kelompok kedua (orang-orang pintar) disekolahkan di dalam negeri dan kelompok bawah dilatih dengan berbagai keterampilan. Mereka yang pulang sekolah dari luar negeri, mereka wajib menularkan pengetahuan dan kemampuannya kepada kelompok dua. Didukung dengan budaya kerja keras dan daya juang yang tunggi dari orang Jepang, kemudian benar-benar sebuah kejutan bisa bangkit dari kelumpuhan ekonomi ; mulai berdiri, berjalan pelan-pelan,sedikit berlari, lalu... berlari. Dan sampailah ke podium keberhasilan , membuat peserta atletik lain bengong !

Bagaimana dengan negeri kita, yang merdeka sejak tahun 1945 ? Mulai era Soekarno sampai era Soeharto, Habibie, Megawati dan SBY. Pembangunan di negeri ini lebih mempriotitaskan pembangunan politik dan ekonomi. Bagaimana hasilnya ? Dari politik baru kelihatan pertumbuhan partai dan gonta-ganti pengurus dan peserta politik loncat indah. Tidak banyak dihasilkan politikus - negarawan, politikus- pejuang. Sebagian polikus, haus wanita, kekayaan dan kekuasaan. Dari sisi ekonomi, baru kelihatan jumlah utang luar negeri yang makin besar,sumber energi bumi(minyak khususnya) sudah semakin menipis, harga-harga kebutuhan pokok semakin mahal, tetapi kemamampuan daya beli masyarakat justru  menurun.

Masa Pemerintahan SBY ada tanda-tanda lebih memperhatikan pendidikan dengan lahirnya UU Sisdiknas  NO 20 tahun 2003 dan UU no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Perhatian utama terletak adanya anggaran 20 % dari APBN dan tunjangan sertifikasi. Tapi.... perhatian ini masih nampak juga bersifat politis, sebab kenyataan dilapangan anggaran yang turun melalui BOS itu ternyata tidak lancar. Sertifikasipun bagi yang sudah lulus baru bisa terima 6 bulan -1 tahun ke depan.Alhasil, manfaatnya belum mampu membantu kesulitan hidup guru-guru. Tardisi mendarah daging terus berkembang, tambal sulam (gapleh) ke Bank tetap dijalani. Begitu  cair sertifikasi, habis pakai bayar utang.

Kembali kita bicara bagaimana tentang negeri kita setelah merdeka 1945 ?
Mari Kita pelajari catatan-catatan sebagai berikut:
  • Aspek Pendidikan :
  1. Hasil survey Word Competitiveness Year Book tahun 2007; pendidikan di Indonesia no 53 dari 55 negara.
  2. UNDP (PBB), data 2007;  peringkat daya saing ( kualitas SDM )  HDI  Indonesia ke 107 dari 177 negara.
  3. Indeks daya saing global-catatan The global Competitiveness(2010) GCI  dari 139 negara-Indonesia ke 44 , Singapore ke 3, Malayasia ke 26, Brunai(28) dan Thailand ke 38.
  4. Catatab Word University Rangking (2004) dari 500 Perguran Tinggi dunia  hanya 4 Perguruan Tinggi di Indonesia yang masuk rengking; UI ke 236, UGM(321),ITB(421 dan UNAIR ke 466.
Dari data tersebut, bisa kita lihat potret pendidikan di Indonesia seperti apa , apalagi bicara kualitasnya. Sebagian dapat kita lihat kondisi Indonesia saat ini; data BPS tahun 2008 mencatat 2283 desa  terjadi tawuran ; mulai tawuran antar pemuda,antar suporter, antar desa sampai  tawuran antar pelajar dan mahasiswa. Catatan BNN tahun 2008 pengguna narkoba di Indonesia sebanyak 3,62 juta orang dan dari angka tersebut sebanyak 1.353 juta adalah pelajar dan mahasiswa.Dari sumber Ruang Hati Com(31 Mei 2009) pada tahun 2020 perokok di Indonesia bisa mencapai 160 juta orang. 47 % pelajar di Jakarta adalah perokok.

Banyak pengamat mengatakan, penyebab potret di Indonesia seperti ini adalah karena kegagalan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indoensia terlalu senang meniru sitem negeri lain tanpa mempertimbangkan kelayakannya dan efektifitasnya. Pendidikan di tanah air ini belum memiliki jati diri , kita terlalu memaksakan ingin seperti orang lain tanpa melihat kemampuan , latar belakang dan sejarah bangsa ini. Sesuatu yang bagus di orang lain... ingat ! ! belum tentu cocok buat kita. Berkarya dengan  ide dan kreativitas sendiri walaupun dengan tingkat yang sederhana, jauh lebih berharga dari pada bagus  tapi hasil meniru .Saya tudak tahu sustem apa ? pendidikan era Soekarno dan awal ordebaru...amat terasa hasil penddikannya.Output pendidikan tempo dulu rasanya banyak menghasilkan orang-orang hebat. Bagaimana sekarang ?
sekarang.....ya.. lihatlah Indonesia saat ini

Jika pendidikan yang disoroti, maka banyak mata memandang kepada sosok guru dan orangtua. Artinya, kehancuran anak bangsa sekarang ini akibat kegagalan guru dan orangtua mendidik anaknya. Berbicara dari sisi guru, dengan kurikulum sekarang guru harus berbuat  bertorientasi kepada ketercapaian  adminstrasi , materi dan nilai UN. Akibatnya proses pembelajarannya bukan bagaimana membangun peserta didik menjadi manusia yang  punya pandangan , sikap  dan keterampilan hidup untuk menjalani kehidupan dan memasuki masadepannya. Guru hanya sibuk memberikan materi pelajaran dan bagaimana caranya agar peserta didik mencapai KKM atau diatas KKM dan standar kelulusan. Akibatnya dalam benak siswa/lulusan hanya ada bilangan saja... berapa saya harus bayar agar saya dapat kunci jawaban?... berapa saya harus sediakan uang agar lulus tes CPNS?...berapa harus ada uang agar saya jadi ketua Parpol.. agar bisa jadi anggota DPR.. agar menang dalam pilkada , keluar dari penjara ....dan... dan... dan... seterusnya. Orangtuapun hanya disibukan membantu anaknya mengerjakan PR. Tidak aneh juga, kalau kemudian output pendidikannya -di pikiran  lulusan hanya ada

Aduh..gimana yah !! pusing tujuh keliling memikirkan bagaumana agar negeri ini berubah.. maksudnya berubah mengalami kemajuan. kalau berubah tambah hancurnya gak usah ngomong lagi. Begini.... baiknya, sekarang kita kosentrasi untuk membuat' Gerakan Anti Kebodohan dan Kemiskinan". Ini jauh lebih penting daripada" Gerakan anti Rokok,Narkoba dan Aids", atau "Gerakan Menanam Satu Milyar Pohon". Ayo gaungkan gerakan anti kebodohan dan kemiskinan dengan kebijakan dan program yang serius tdak setengah-setengah, jangan bersifat politis - tapi realistis-konkrit. Semua kalangan ikut bertangung-jawab, ikut berpatisipasi, gerakannya seperti gerakan kalau ada kebakaran dan bencana. Sekali lagi Gerakan Anti Kebodohan dan Kemiskinan" ; mulai dari warga, tokoh masyarakat, tokoh politik, pengusaha dan pejabat, mari bersama-sama lakukan action untuk membangun era baru-era kebangkitan Indonesia.Dari  langkah yang paling pundamen, tumbuhkan motivasi, semangat , kerja keras ,belajar keras, iinisiatip,  kreatif , displin daya juang yang tinggi meraih cita-cita ( keinginan/harapan ).Mari semua tumbuhkan tanggung-jawab membangun anak bangsa dengan orientasi bebaskan dari kebodohan dan kemiskinan. Orientasi kepentingan bangsa bukan hanya kepentingan pribadi , kelompok atau golongan.

Dengan terwujudnya bangsa yang pandai, diharapkankan kita dapat menentukan sikap yang tepat, bahwa suatu hal itu perlu dilakukan  atau tidak, perlu di coba atau di abaikan. Penyimpangan-penyimpangan sosial yang sebelumnya sering terjadi, semoga kemudian beralih kepada suasana tertib sosial. Karena sekarang rakyat rata-rata sudah memiliki penghasilan yang cukup, meski tidak jadi pengusaha dan pejabat. Oh... indahnya negri ini , jalan  hidup nampak jelas.. aku tahu apa yang harus kulakukan dan apa yang harus kuhindari. Suasana saling hargai, saling membantu, saling melayani bahkan saling menguntungkan benar-benar suatu tardisi baru tercipta. Pejabat kaya - rakyat sejahtera, pengusa untung - karyawanan senang, pemimpin punya kursi empuk - bawahan dapat karpet empuk.

Tumbuhkan Tanggung - Jawab Membangun Anak Bangsa (Hidup berencana,bag.2)

Senin, 08 November 2010
Negeri  ini  punya ribuan pulau yang tersebari dari Sabang sampai Meroke, lautnya luas dan hutannya lebat ( itu dulu...).Seorang turis manca negara terheran-heran melihat  alam Indonesia begitu indah dan kaya akan sumber alam, tapi kok... penduduknya tidak sejahtera alias......? Akh....tidak aneh bukan? Para pemikir mengatakan " Sebanyak apapun kita punya kekayaan kalau sumber daya manusia berkualitas rendah, semua itu menjadi tak berguna".Yang dimaksud kualitas disini adalah pandangan hidup, sikap hidup , ketrampilan hidup termasuk penguasaan ilmu dan teknologi.

Kita banyak mendengar ungkapan - ungkapan sebagai berikut :
  • Yang penting bisa makan
  • Perempuan tidak perlu sekolah tinggi, nanti kan... dihidupi suami!
  • Percuma sekolah tinggi, mau jadi apa?
  • Buat apa banyak harta, nanti juga kalau mati ditinggalkan.
  • Jangan fanatik, itu mah... kuno.
  • Jangankan yang halal, yang haram juga susah.
  • Msa muda masa yang paling indah, jangan disia-siakan .
  • Biarkan dia masih kecil
  • Maaf saya tidak tahu, maaf saya tidak bisa, maaf saya belum punya pengalaman.
  • Banyak anak - banyak rizki
  • Jangan pergi jauh-jauh nak... nanti kalau bapak/ibumu mati gimana?
  • Hidup cuma sekali, jangan banyak mikir !, lalukanklah yang menurut kamu perlu lakukan !
  • Akh gimana nanti aja !
  • Aku berjuang mati-matian -hanya untuk isi perut.
  • Jangan ikut mikir urusan orang, urus saja  urusanmu.

      Tidak perlu diperjelas, karena semuanya sudah jelas bahwa pernyataan tersebut mengambarkan bagaimana psndangan dan sikap hidup seseorang yang nanti berpengaruh terhadap kompentensi hidupnya. Hal-hal seperti itu akan membuat dirinya menjadi tak berdaya menghadapi tantangan hidup, yang makin hari terasa berat. Ini disadari setelah terlanjur parah. Aku menyesal... kenapa dulu harus berpikir begitu.?..kenapa dulu aku berbuat seperti mereka ? Penyesalan yang terlambat!!

      Cara berpkir yang sempit dan picik, membuat langkah menjadi salah. Hidup tak terarah, semua gue, terserah gue. Anehnya dia tetap memerlukan bantuan orang lain. Saat dia butuh uang..perlu pinjaman. Saat anaknya sakit perlu pertolongan tetangganya. Dan matipun ternyata dia tak sanggup mengubur dirinya sendiri. Kenapa selama hidupnya tak perduli terhadap orang lain dan lingkungannya. Justru seringkali mengganggu, merugikan bahkan menghancurkan orang lain. Mulai dari yang paling sederhana ; menyinggung perasan dan melukai perasaan orang sampai mengambil atau merusak milik orang lain dan menghilangkan nyawanya.

      Buah dari pandangan dan sikap hldup yang salah adalah kemalasan. Kemalasan biangnya kebodohan dan kemiskinan. Kemiskinan menjadi pangkal kejahatan. Menjawab pertantanyaan seorang turis  di atas, kenapa Indonesia sperti ini... kok penduduknya tidak sejahtera  ?Jawabnya adalah karena faktor  cara berpiklr dan kemalasan. Yang berakibat akan kemiskinan ilmu pengetahuan dan keterampilan hldup. Bangsa yang seperti ini akan memberi kesempatan kepada bangsa yang lain untuk mngambil peluang yang menguntungkan dirinya. Saya harus datang ke negeri itu... karena mereka tidak tahu dan tidak bisa- apa, (kata orang bule kaum kolonialisme/lmperialisme  atau kaum kapitalis ). Dan terjadilah kemudian... lebih dari 350 tahun kekuasaan dan kekayaan negeri Nusantara ini dikuras bangsa-bangsa pintar; mulai datangnya Portugis,Spanyol.Belanda, Inggris terakhir Jepang. Kini kita hidup begitu berat melangkah, karena sudah banyak kehilangan daya. Meskipun pemerintah negera ini telah berupaya melakukan pembangunan agar bangsa ini hidup layak dan sejahtera , ternyata belum mapu mewujudkannya. Ada hasilnya? tapi....maaf...yaah.. baru kaum politikus, pengusaha dan pejabat. Kapan rakyatnya....? yah... nanti saja kalau jadi potikus, pengusaha  atau pejabat.

      Terasa lelah memikirkan nasib negeri ini, bagaimana kita bisa membangun bangsa dan negara ini ? Jangan terlalu pusing memikirkan para politikus, pengusaha dan pejabat yang hidupnya mewah, sementara rakyat bergulung slimut susah. Karena yang jadi persoalan adalah aspek sumber daya manusianya, mari kita bangun akan bangsa ini. Tumbuhkan tanggung-jawab yang besar pada diri kita, bahwa kita sangat perlu mendidik putra-putri negeri ini dengan pandangan dan sikap hidup yang benar, serta membekali dengan keterampilan hidup yang dibutuhkan  di era modern ini. Baik secara perorangan, kelompok dan LSM, apalagi Pemerintah
      untuk bersama- sama secara serius berupaya membangun anak bangsa ini. Semua harus berawal dari sebuah rencana yang mantap, gerakannya mulai dari lingkup yang paling bawah keluarga, Rt/Rw/Desa atau Kelurahan, Kecamatan/Kabupaten, Propinsi dan Pusat. Kalau dulu jaman orde baru, bisa membuar program penataran P4 dengan rencana dan program yang luar biasa-menggaung se Nusantara, dari mulai tingkat RT sampai ke tingkat nasional untuk semua kalangan; mulai dari masyarakat biasa sampai pejabat, pelajar dan mahasiswa dll.

      Harus dimulai dari mana kita mendidik anak bangsa ini ? Mari kita mulai dengan  membangun karakter diri.
      Sederhananya, pada kurikulum tempo dulu ada pelajaran budi pekerti ( niali-nilai etika san estetika), kemudian kita kembangkan untuk membangun tingkat nalar, sehingga kemudian mereka akan memiliki pandangan dan sikap hidup yang  benar. Jika perlu kurikulum kembali ke tempo dulu, peserta didik tidak terlalu dijejali materi pelajaran, tapi tekanannya kepada membangun budi pekerti (karakter). Dengan melatih cara berpkir dan membina sikap yang benar anak-anak kita, pada akhirnya akan menumbuhkan karakter bangsa; berjiwa pejuang, pemberani ( berbuat yang benar ), siap berkorban, bhineka tunggal ika, gotong royong, ramah-tamah, suka menolong,tenggang rasa. adil dan bijaksana, tekad dan semangat yang kuat dll. Ini... katanya sudah mulai hilang...hilang atau luntur yahh... ? akh sama aja!.      (akan  dilanjutkan...)
      .