Kita banyak mendengar ungkapan - ungkapan sebagai berikut :
- Yang penting bisa makan
- Perempuan tidak perlu sekolah tinggi, nanti kan... dihidupi suami!
- Percuma sekolah tinggi, mau jadi apa?
- Buat apa banyak harta, nanti juga kalau mati ditinggalkan.
- Jangan fanatik, itu mah... kuno.
- Jangankan yang halal, yang haram juga susah.
- Msa muda masa yang paling indah, jangan disia-siakan .
- Biarkan dia masih kecil
- Maaf saya tidak tahu, maaf saya tidak bisa, maaf saya belum punya pengalaman.
- Banyak anak - banyak rizki
- Jangan pergi jauh-jauh nak... nanti kalau bapak/ibumu mati gimana?
- Hidup cuma sekali, jangan banyak mikir !, lalukanklah yang menurut kamu perlu lakukan !
- Akh gimana nanti aja !
- Aku berjuang mati-matian -hanya untuk isi perut.
- Jangan ikut mikir urusan orang, urus saja urusanmu.
Cara berpkir yang sempit dan picik, membuat langkah menjadi salah. Hidup tak terarah, semua gue, terserah gue. Anehnya dia tetap memerlukan bantuan orang lain. Saat dia butuh uang..perlu pinjaman. Saat anaknya sakit perlu pertolongan tetangganya. Dan matipun ternyata dia tak sanggup mengubur dirinya sendiri. Kenapa selama hidupnya tak perduli terhadap orang lain dan lingkungannya. Justru seringkali mengganggu, merugikan bahkan menghancurkan orang lain. Mulai dari yang paling sederhana ; menyinggung perasan dan melukai perasaan orang sampai mengambil atau merusak milik orang lain dan menghilangkan nyawanya.
Buah dari pandangan dan sikap hldup yang salah adalah kemalasan. Kemalasan biangnya kebodohan dan kemiskinan. Kemiskinan menjadi pangkal kejahatan. Menjawab pertantanyaan seorang turis di atas, kenapa Indonesia sperti ini... kok penduduknya tidak sejahtera ?Jawabnya adalah karena faktor cara berpiklr dan kemalasan. Yang berakibat akan kemiskinan ilmu pengetahuan dan keterampilan hldup. Bangsa yang seperti ini akan memberi kesempatan kepada bangsa yang lain untuk mngambil peluang yang menguntungkan dirinya. Saya harus datang ke negeri itu... karena mereka tidak tahu dan tidak bisa- apa, (kata orang bule kaum kolonialisme/lmperialisme atau kaum kapitalis ). Dan terjadilah kemudian... lebih dari 350 tahun kekuasaan dan kekayaan negeri Nusantara ini dikuras bangsa-bangsa pintar; mulai datangnya Portugis,Spanyol.Belanda, Inggris terakhir Jepang. Kini kita hidup begitu berat melangkah, karena sudah banyak kehilangan daya. Meskipun pemerintah negera ini telah berupaya melakukan pembangunan agar bangsa ini hidup layak dan sejahtera , ternyata belum mapu mewujudkannya. Ada hasilnya? tapi....maaf...yaah.. baru kaum politikus, pengusaha dan pejabat. Kapan rakyatnya....? yah... nanti saja kalau jadi potikus, pengusaha atau pejabat.
Terasa lelah memikirkan nasib negeri ini, bagaimana kita bisa membangun bangsa dan negara ini ? Jangan terlalu pusing memikirkan para politikus, pengusaha dan pejabat yang hidupnya mewah, sementara rakyat bergulung slimut susah. Karena yang jadi persoalan adalah aspek sumber daya manusianya, mari kita bangun akan bangsa ini. Tumbuhkan tanggung-jawab yang besar pada diri kita, bahwa kita sangat perlu mendidik putra-putri negeri ini dengan pandangan dan sikap hidup yang benar, serta membekali dengan keterampilan hidup yang dibutuhkan di era modern ini. Baik secara perorangan, kelompok dan LSM, apalagi Pemerintah
untuk bersama- sama secara serius berupaya membangun anak bangsa ini. Semua harus berawal dari sebuah rencana yang mantap, gerakannya mulai dari lingkup yang paling bawah keluarga, Rt/Rw/Desa atau Kelurahan, Kecamatan/Kabupaten, Propinsi dan Pusat. Kalau dulu jaman orde baru, bisa membuar program penataran P4 dengan rencana dan program yang luar biasa-menggaung se Nusantara, dari mulai tingkat RT sampai ke tingkat nasional untuk semua kalangan; mulai dari masyarakat biasa sampai pejabat, pelajar dan mahasiswa dll.
Harus dimulai dari mana kita mendidik anak bangsa ini ? Mari kita mulai dengan membangun karakter diri.
Sederhananya, pada kurikulum tempo dulu ada pelajaran budi pekerti ( niali-nilai etika san estetika), kemudian kita kembangkan untuk membangun tingkat nalar, sehingga kemudian mereka akan memiliki pandangan dan sikap hidup yang benar. Jika perlu kurikulum kembali ke tempo dulu, peserta didik tidak terlalu dijejali materi pelajaran, tapi tekanannya kepada membangun budi pekerti (karakter). Dengan melatih cara berpkir dan membina sikap yang benar anak-anak kita, pada akhirnya akan menumbuhkan karakter bangsa; berjiwa pejuang, pemberani ( berbuat yang benar ), siap berkorban, bhineka tunggal ika, gotong royong, ramah-tamah, suka menolong,tenggang rasa. adil dan bijaksana, tekad dan semangat yang kuat dll. Ini... katanya sudah mulai hilang...hilang atau luntur yahh... ? akh sama aja!. (akan dilanjutkan...)
.

6 komentar:
pak kenapa banyak perusahaan negeri atupun swasta masih menganut sistem nepotisme untuk mencari pegawai baru
by farrizza
itulah salah satu penyakit yg menyerang bangsa ini.Dan ini pertanda rendahnya pandangan dan sikap hidup kita.
Good artikel..
Btw Bagaimana menangkal pengaruh negatif dari dunia maya..?
Coz bnyk kontent ga bagus yg sngat di mudah di unduh, baik via pc maupun via hp..
Ur wellcome..
"makan ga makan asal kumpul..." ungkapan sebuah lagu yang mencerminkan budaya bangsa kita seolah pasrah dengan keadaan.....bisa jadi tuh cikal bakal lemahnya negara kita....
bicara nilai budaya, saya setuju dengan apa yang diungkapkan diakhir artikel Bapak, penanaman budi pekerti harus lebih ditingkatkan lagi bukan hanya sekedar nilai-nilai dari mata pelajaran BP/BK. pendidikan budi pekerti yang dicanangkan pemerintah harus segera direalisasikan......
indonesia memiliki bnyak penduduk, sampai-sampai indonesia menduduki ke-4 penduduk terpadat. namun warga indonesia tidak memiliki rasa berpikir yg kuat sehingga indonesia ini menjadi negara yg POLA BERPIKIRNYA RENDAH!!!!
APAKAH BETUL BEGITU PAK????
Tau tidak ciri orang yg pola pikirnya rendah ?
Ini cirinya:
selalu negative thinking
hari-harinya hanya sibuk bersenang-senang;tidur,makan,main,ngerumpi,nonton.
banyak tindakan yg menyimpang
susah menerima saran orang lain
tdk punya rencana untuk masa depan
melakukan kesalahan dan kegagalan yg berulang-ulang.
Posting Komentar